Talaga Nusliko
Merupakan cekungan yang menyerupai danau berair payau yang terletak di Desa Nusliko. Danau ini berukuran 4 Km2 yang dikelilingi bukit ditumbuhi pepohonan Mangrove di pesisir danau. Jarak tempuh dari Kota Weda ke Talaga Nusliko sejauh 7 Km dengan menggunakan transportasi darat (Mobil/motor) dengan tarif Rp. 30.000 – Rp. 40.000.
It is a basin resembling a brackish water lake located in Nusliko Village. This lake measures ± 4 Km^2 surrounded by hills overgrown with Mangrove trees on the shore of the lake. The distance from Weda City to Talaga Nusliko is 7 Km by using land transportation (cars/motorcycles) with a fare of Rp. 30,000 – Rp. 40,000.
Telaga Moreala
Air terjun Telaga Moreala merupakan air terjun dengan ketinggian 5 M yang dikelilingi hutan hujan yang rimbun, sehingga kawasan ini memiliki udara yang masih asri dan bersih. Berjarak 5 Km dari ibukota Halmahera Tengah dan terletak di pintu masuk Kota Weda. Untuk bisa sampai di kawasan ini dapat ditempuh menggunakan transportasi darat dengan tarif Rp. 30.000.
Telaga Moreala Waterfall is a waterfall with a height of ± 5 M which is surrounded by lush rainforest, so that this area has beautiful and clean air. It is ± 5 Km from the capital city of Central Halmahera and is located at the entrance to the City of Weda. To get to this area can be reached using land transportation at a rate of Rp. 30,000
Tanjung Silota
Tanjung silota adalah sebuah tanjung yang terleta di Desa Loleo kecamatan Weda Selatan. Daya tarik tanjung ini adalah pesisir pantai yang ditumbuhi dengan bakau atau Mangrove dengan luas 10 Ha. Tanjung Silota terletak 17 Km dari ibukota kabupaten dengan waktu tempuh 1 jam. Perjalanan dan tarif angkutan darat sebesar Rp. 50.000
Tanjung Silota is a headland located in Loleo Village, South Weda District. The attraction of this cape is the coast overgrown with mangroves or mangroves with an area of 10 hectares. Tanjung Silota is located 17 Km from the district capital and takes 1 hour. Trips and ground transportation fares are Rp. 50,000.
Taman Laut Pasi Gurango & Pasi Dua
Gundukan karang dalam bahasa lokal Maluku Utara disebut Pasi. Pasi Gurango adalah sebuah gundukan karang di tengah laut yang menyerupai pulau karang berdiameter 5 m, yang terletak kurang lebih 0,62 mil (1 km) dari pantai Sagea, kecamatan Weda Utara. Tidak jauh dari Pasi Gurango, terdapat dua buah gundukan yang berdekatan. Tempat ini disebut Pasi Dua. Kondisi di Pasi Dua sama dengan Pasi Gurango, yang dikelilingi laut dangkal dan dihiasi biota laut yang beraneka ragam. Kedua potensi ini dapat ditempuh menggunakan transportasi laut dari dermaga Weda dengan waktu 1,5 jam.
The mound of coral In the local la”guag’ of North Maluku is called Pasi. Pasi Gurango is a coral mound in the middle of the sea that resembles a coral island with a diameter of ± 5 m, which is located approximately 0.62 miles (1 km) from Sagea beach, North Weda sub-district. Not far from Pasi Gurango, there are two adjacent mounds. This place is called Pasi Dua. The conditions in Pasi Dua are the same as Pasi Gurango, which is surrounded by shallow seas and decorated with a variety of marine life. Both of these potentials can be reached by sea transportation from Weda pier in 1.5 hours.
Taman Nasional Aketajawe – Lolobata
Potensi yang terdapat di dalam TNAL adalah potensi flora, fauna, potensi budaya dan potensi wisata alam. Potensi flora di dalam TNAL terdapat tujuh tipe ekosistem, ada dua jenis tumbuhan pohon yang dilindungi yaitu Kenari (Canarium vulgare) dan Agathis (Agathis sp.). Fauna di TNAL ditemukan beberapa spesies mamalia, reptilian, amphibi, aves dan kupu-kupu. Untuk burung terdapat 217 jenis burung yang terdapat di Halmahera (24 jenis endemik) dan 4 jenis endemik Halmahera. Terdapat juga 46 jenis reptil dan 3 jenis spesies kadal. Sedangkan amphibi terdapat 7 jenis di Halmahera.
Potensi budaya di dalam kawasan TNAL yaitu terdapat penduduk asli (Suku Togutil) atau komunitas adat terpencil (daerah enclave) yag belum tercampur dengan masyarakat pendatang. Terdapat juga potensi wisata alam arum jeram dibeberapa sungai yang terdapat di TNAL. Perjalalanan dari ibukota Halmahera Tengah ke TNAL dapat ditempuh dnegan waktu kurang lebih 1 jam dengan menggunakan transportasi darat.
The potential contained in TNAL is the potential of flora, fauna, cultural potential and natural tourism potential. There are seven types of ecosystems in the TNAL flora potential, there are two types of protected tree plants, namely Kenari (Canarium vulgare) and Agathis (Agathis sp.). Fauna in TNAL found several species of mammals, reptiles, amphibians, birds and butterflies. For birds, there are 217 species of birds found in Halmahera (24 species endemic) and 4 species endemic to Halmahera. There are also 46 species of reptiles and 3 species of lizards. Meanwhile, there are 7 types of amphibians in Halmahera.
The cultural potential within the T”AL i’ area Includes indigenous people (Togutil tribe) or isolated indigenous communities (enclave areas) who have not mixed with immigrant communities. There is also the potential for rafting in several rivers in TNAL. The journey from the capital city of Central Halmahera to TNAL can be reached in less than 1 hour by using land transportation.
Telaga Lagae Lol
Telaga amatan Weda Utara Lagae Lol adalah sebuah danau air payau yang terletak di kaki bukit Lagae Lol di sebelah barat desa Sagea, di kecamatan Weda Utara. Panjang danau ini 2,5 Km dan lebar 2,4 km. Ditengah danau terdapat sebuah pulau kecil yang diberi nama Yefi yang dikelilingi tanaman bakau dan jenis kayu lainnya. Dipesisir sebelah barat danau ini terdapat sebuah makam keturunan Sultan Jailolo yang dikeramatkan oleh warga masyarakat setempat dan berdekatan dengan mata air tawar. Kawasan wisata ini dapat dikunjungi menggunakan sarana transportasi laut (longboat atau ketinting). Jarak yang ditempuh untuk mencapai gerbang danau 2 Km dengan lama perjalanan 25 menit dari Desa Sagea. Tarif yang dikenakan sebesar Rp. 350.000 per unit per satu hari kunjungan.
North Weda Lake Lagae Lol is a brackish water lake located at the foot of the Lagae Lol hill to the west of Sagea village, in North Weda district. The lake is ± 2.5 km long and ± 2.4 km wide. In the middle of the lake there is a small island named Yefi which is surrounded by mangroves and other types of wood. On the west coast of the lake there is a tomb of the descendants of Sultan Jailolo which is sacred to the local community and is close to a fresh water spring. This tourist area can be visited using sea transportation (longboat or ketinting). The distance taken to reach the lake gate is ± 2 Km with a 25-minute journey from Sagea Village. The rate charged is Rp. 350,000 per unit per one day visit.
Pantai Baiwolet
Pantai Baiwolet terletak di desa Sagea kecamatan Weda Utara. Posisi objek wisata ini sangat strategis karena berada di jalan trans Halmahera poros Weda-Patani berdekatan dengan dermaga penyebrangan Sagea. Jarak objek dari desa Sagea 700 M, dengan waktu tempuh 10 menit menggunakan transportasi darat (mobil atau Ojek) dengan tarif Rp. 25.000
Baiwolet Beach is located in the village of Sagea, North Weda sub-district. The position of this tourist attraction is very strategic because it is located on the Trans Halmahera road, the Weda-Patani axis, close to the Sagea crossing pier. The object distance from the village of Sagea is 700 M, with a travel time of 10 minutes using land transportation (cars or motorcycle taxis) with a fare of Rp. 25,000.
Air Terjun Koka
Air terjun Koka terletak di desa Waleh kecamatan Weda Utara dengan ketinggian air 25 m. Untuk mengunjungi lokasi ini dapat dilakukan dengan transportasi darat dari desa Sagea dengan lama perjalanan 1,5 jam.
Koka Waterfall is located in Waleh village, North Weda sub-district, with a water level of ± 25 m. To visit this location can be done by land transportation from Sagea village with a travel time of ± 1.5 hours.
Air Terjun Pnu Mbono
Air Terjun Pnu Mbono terletak di desa Banemo kecamatan Patani Barat. Medan jalan untuk menuju ke lokasi ini memang sangat ekstrim dan menantang untuk itu membutuhkan tenaga yang ekstra kuat, lama perjalanan 3 jam dari desa Banemo Kecamatan Patani Barat.
Pnu Mbono Waterfall is located in the village of Banemo, West Patani district. The road terrain to get to this location is indeed very extreme and challenging, so it requires extra strong energy, a 3 hour journey from Banemo Village, West Patani District.
Tanjung Ngolopopo
Tanjung Ngolopopo adalah sebuah tanjung yang terbentuk dari susunan batu karang yang keras (batu cadas). Tanjung ini berjarak sekitar 0.90 mil dari desa Kipae, kecamatan Patani. Tanjung ini merupakan saksi sejarah hilangnya armada perang Sultan Jailolo yang kabarnya tenggelam di selat tanjung Ngolopopo dan Pulau Moor. Selat ini dikenal dengan selat Jailolo.
Ngolopopo Cape is a promontory formed from a hard rock arrangement (rock). This cape is about ± 0.90 miles from Kipae village, Patani district. This cape is a historical witness to the loss of Sultan Jailol’s war fleet which reportedly sank in the Straits of Cape Ngolopopo and Moor Island. This strait is known as the Jailolo strait.
Pantai Cib Cebe
Pantai dengan keindahan batu cadas merupakan salah satu objek wisata yang diminati wisatawan. Pantai ini terletak tidak jauh dari desa Gemia dengan luas kurang lebih 500 M ini secara topografi merupakan wilayah bebatuan kars yang dari darat hingga pesisir pantai.
The beach with the beauty of the rock is one of the attractions that are of interest to tourists. This beach is located not far from the village of Gemia with an area of approximately 500 M. Topographically, this is an area of karst rocks that extends from the land to the coast.
Aer Santosa
Aer Santosa merupakan salah satu wisata sejarah yang berada di Patani utara. Tempat ini merupakan peninggalan leluhur sehingga pada waktu-waktu tertentu masyarakat mengadakan ritual dengan tujuan terhindar dari bencana dan gangguan orang jahat. Dikawasan Aer Santosa juga terdapat goa-goa kecil.
Aer Santosa is one of the historical tours in North Patani. This place is an ancestral heritage so that at certain times the community holds rituals with the aim of avoiding disasters and disturbances from bad people. In the Aer Santosa area there are also small caves.
Tepeleo Batu Dua
Desa Tepeleo Kecamatan Patani Utara merupakan desa terpencil dan terluar yang berhadapan langsung dengan samudera Pasifik. Desa ini memiliki objek wisata yang dikenal dengan Tepeleo Batu Dua (Manus) yang dijadikan ikon dari desa Tepeleo. Masyarakat sekitar percaya bahwa bukit ini terbentuk dari sebuah kapal yang karam dan akhirnya terbelah menjadi dua.
Tepeleo Village, North Patani District, is a remote and outer village directly facing the Pacific Ocean. This village has a tourist object known as Tepeleo Batu Dua (Manus) which is used as an icon of Tepeleo village. Local people believe that this hill was formed from a ship that sank and eventually split into two.
Goa Elfanun
Goa Elfanun terletak di Desa Elfanun. Objek wisata ini berdekatan dengan pemukiman masyarakat sehingga sangat mudah ditemukan. Goa Elfanun merupakan sebuah lubang batu kars dengan ukuran kecil 3 m2. Goa ini digunakan untuk pemujaan dan penyerahan sesajian untuk para leluhur. Masyarakat meyakini bahwa goa dengan ukuran mini ini memiliki jalan yang tembus ke arah Pantai Utara.
Elfanun Cave is located in Elfanun Village. This tourist attraction is close to community settlements so it is very easy to find. Elfanun Cave is a karst rock hole with a small size of ± 3 m^2. This cave is used for worship and offering offerings to the ancestors. The community believes that this mini-sized cave has a clear road to the North Beach.
Pulau Fau
Pulau Fau adalah pulau yang terletak berdekatan dengan Pulau Gebe. Pulau ini biasanya digunakan sebagai lokasi pemancingan. Terumbu karang dan pepohonon yang masih terjaga membuat pulau ini sangat cocok untuk dinikmati oleh wisatawan.
Fau Island is an island located adjacent to Gebe Island. This island is usually used as a fishing location. Coral reefs and trees that are still intact make this island very suitable for tourists to enjoy.